Review Film The Violence Action (2022) - Film Action Jepang dengan Makna tentang Harapan dan Impian

 

The Violence Action (Original title: Baiorensuakushon) | 2025 | 1h 51m
Genre : Action/Comedy/Crime/Drama | Negara: Japan
Director:
Tôichirô Rutô | Writers: Renji Asai, Itaru Era, Tôichirô Rutô
Pemeran: Kanna Hashimoto, Yôsuke Sugino, Fumika Baba
IMDB: 4.8
My Rate : 7/10
 

Kei merupakan mahasiswi jurusan keuangan yang menjalani kehidupan ganda sebagai pembunuh bayaran di sebuah organisasi rahasia. Setelah menjalankan misi membunuh salah satu pimpinan Yakuza, hidupnya berubah ketika ia tanpa sadar terseret ke dalam konflik perebutan kekuasaan yang mengancam keselamatannya.

 

Peringatan:

Kekerasan, bunuh diri, kata kasar

 

Sinopsis :

Kei menjalani kehidupan ganda. Di balik kesehariannya sebagai mahasiswi, ia bekerja sebagai pembunuh bayaran di sebuah organisasi rahasia. Penampilannya yang lembut sama sekali tidak mencerminkan profesinya yang mematikan, menjadikannya salah satu eksekutor yang paling berbahaya.

Suatu hari, Kei ditugaskan untuk membunuh salah satu pimpinan organisasi Yakuza atas perintah Kinoshita, yang tengah berusaha merebut kekuasaan. Misi tersebut berhasil dijalankan, tetapi tanpa disadari justru menyeret Kei ke dalam konflik yang jauh lebih rumit.

Di sisi lain, Terano, tangan kanan pimpinan tertinggi Yakuza, bertekad membalas kematian rekannya yang ditembak oleh Kinoshita. Demi menyingkirkan ancaman itu, Kinoshita kembali memerintahkan Kei untuk menghabisi Terano. Namun, hubungan Kei dan Terano ternyata tidak sesederhana pembunuh dan targetnya, membuat Kei harus dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Akankah Kei menjalankan misinya, atau justru memilih menyelamatkan Terano?

 
Ulasan :

Setiap manusia membutuhkan alasan untuk tetap bertahan hidup. Bagi sebagian orang, alasan tersebut bisa sesederhana memiliki sebuah impian yang ingin diwujudkan. Gagasan inilah yang menjadi inti dari The Violence Action (2022), film adaptasi webcomic Violence Action karya Renji Asai dan Shin Sawada. Di balik kisah pembunuh bayaran dan konflik perebutan kekuasaan Yakuza, film ini justru berbicara tentang harapan yang membuat seseorang terus melangkah ketika hidup terasa kehilangan arah.

Film dibuka dengan cara yang unik dan menarik. Kei diperkenalkan sebagai mahasiswi dengan penampilan yang sederhana tetapi mencolok melalui rambut merah mudanya, tas ransel, skuter, dan gaya berpakaian yang modis. Namun, tidak lama kemudian penonton langsung diperlihatkan sisi lain dirinya melalui adegan pertarungan yang intens. Kontras antara penampilan Kei yang lembut dengan kemampuannya sebagai pembunuh bayaran berhasil membangun kesan yang kuat sejak awal. Karakter Kei pun dijaga dengan cukup konsisten hingga akhir cerita.

Pengenalan tokoh-tokoh penting lainnya juga dilakukan dengan rapi dan natural. Pertemuan Kei dengan Terano terasa mengalir tanpa dipaksakan, sementara kemunculan para petinggi Yakuza membantu penonton memahami sumber konflik utama dalam cerita. Setiap karakter memiliki perannya masing-masing sehingga alur cerita mudah diikuti meski melibatkan banyak kepentingan di dalam organisasi tersebut.

Konflik yang paling menonjol memang berasal dari konflik eksternal. Perebutan kekuasaan di dalam organisasi Yakuza, berbagai misi yang harus diselesaikan Kei, hingga bagaimana dirinya tanpa sengaja terseret ke dalam konflik yang tidak pernah diinginkannya membuat intensitas aksi terus meningkat. Namun, di balik semua pertarungan tersebut, film ini tetap menyisakan konflik batin yang cukup kuat. Masing-masing tokohnya memiliki kebimbangan, kehilangan, dan impian yang menjadi alasan mereka untuk terus bertahan hidup.

Akhir cerita disajikan melalui open ending yang disertai twist menarik. Perkembangan karakter Kei menjadi salah satu bagian yang cukup menyentuh. Sosok yang sejak awal selalu memisahkan perasaan dari pekerjaannya perlahan mulai berubah setelah berbagai kejadian yang dialaminya. Perubahan tersebut tidak dibuat berlebihan, tetapi cukup memberikan kesan bahwa pengalaman dapat mengubah cara seseorang memandang hidup.

Meski film ini tetap menghibur sebagai film action ringan dengan sentuhan komedi, tidak mengherankan jika sebagian penonton merasa kurang puas terhadap kedalaman ceritanya. Hal tersebut mungkin menjadi salah satu alasan mengapa film ini hanya memperoleh nilai 4,8 di IMDb. Latar belakang para tokohnya, terutama Kei sebagai tokoh utama, belum benar-benar digali sehingga perkembangan karakternya terasa belum maksimal. Akibatnya, berbagai dialog dan pesan mengenai harapan serta impian yang sebenarnya menjadi inti cerita belum mampu meninggalkan kesan yang benar-benar kuat.

Masih banyak ruang yang sebenarnya dapat dieksplorasi dari masing-masing karakter. Pendalaman masa lalu, motivasi, dan hubungan antartokohnya berpotensi memberikan koneksi emosional yang lebih kuat kepada penonton. Meski demikian, menurutku nilai 4,8 terasa terlalu rendah karena film ini masih memiliki banyak hal positif, terutama dari berbagai dialog yang mengandung makna mengenai harapan dan alasan untuk tetap bertahan hidup.

Akting para pemain tampil cukup natural. Kanna Hashimoto berhasil memperlihatkan sisi imut dan keseharian Kei dengan sangat baik. Namun, ketika harus berubah menjadi pembunuh bayaran yang ditakuti, auranya belum sepenuhnya terasa meyakinkan. Bukan karena kemampuan action-nya kurang, tetapi ekspresi, gestur, cara bergerak, hingga cara memegang senjata masih belum sepenuhnya menggambarkan sosok pembunuh bayaran profesional. Jika dibandingkan dengan Akari Takaishi yang lebih sering membintangi film bertema action, perbedaan pengalaman tersebut masih cukup terasa.

Kelebihan yang paling menonjol dari film ini justru berasal dari sisi teknisnya. Pengambilan gambar dilakukan dengan sangat teliti, terutama pada adegan-adegan pertarungan. Pergerakan kamera, komposisi gambar, dan transisi antarlokasi terasa kreatif, seperti penggunaan pergerakan tokoh sebagai penghubung perpindahan adegan. Terlihat bahwa perencanaan storyboard dan penyusunan visual dilakukan dengan matang.

Memang masih ada beberapa adegan yang terlihat kurang menyatu, misalnya ketika para tokoh berada di dalam mobil sementara latar di luar jendela tampak kurang meyakinkan sehingga mobil terasa tidak benar-benar bergerak. Namun, kekurangan tersebut tidak terlalu mengganggu pengalaman menonton secara keseluruhan.

Pemilihan musik juga menjadi salah satu kekuatan film ini. Perpindahan dari musik bertempo cepat saat adegan aksi menuju musik ceria pada momen komedi dilakukan dengan mulus sehingga perubahan suasana tidak terasa janggal. Perpaduan antara action, komedi, dan drama membuat ritme film terasa seperti naik turun mengikuti alur sebuah roller coaster, tetapi tetap menyenangkan untuk diikuti.

Walau film ini berakhir dengan open ending, hingga saat ini belum ada informasi mengenai kelanjutan ceritanya. Jika suatu saat sekuel benar-benar dibuat, akan lebih menarik apabila cerita berfokus pada pendalaman latar belakang masing-masing tokoh, terutama Kei. Dengan begitu, penonton dapat memahami alasan di balik cara berpikir, impian, dan keputusan-keputusan yang diambilnya sepanjang cerita. Pendalaman tersebut berpotensi memberikan koneksi emosional yang jauh lebih kuat dibandingkan film pertamanya.

Pada akhirnya, The Violence Action bukan sekadar film tentang pembunuh bayaran. Di balik aksi dan komedinya, film ini mengingatkan bahwa setiap orang membutuhkan alasan untuk tetap bertahan hidup. Terkadang alasan itu tidak harus besar. Cukup sebuah mimpi kecil yang membuat kita memilih untuk terus melangkah.

 

Adegan yang mengesankan:  

Daria mengatakan bahwa dalam hidupnya tidak ada sesuatu yang benar-benar ia miliki, sehingga ia tidak pernah takut kehilangan apa pun. Ucapan tersebut memperlihatkan bagaimana dirinya perlahan kehilangan harapan terhadap kehidupan. Mendengar hal itu, Kei menyarankan Daria untuk memiliki sebuah mimpi. Menurutnya, sekecil apa pun mimpi itu, hidup akan terasa lebih berarti ketika kita memiliki sesuatu yang ingin dicapai.

Sering kali, seseorang merasa hidupnya kehilangan makna setelah melalui berbagai penderitaan. Dalam keadaan seperti itu, sebuah mimpi dapat menjadi wujud dari harapan yang masih tersisa. Bukan karena semua mimpi pasti terwujud, tetapi karena memiliki tujuan memberi alasan bagi kita untuk terus melangkah. Terkadang, hal sederhana yang ingin kita capai sudah cukup untuk membuat kita tetap bertahan menjalani hidup.

 
Dialog mengesankan:

"But I'm trying one thing at a time to figure out what I could do"

 
Ending:

Open Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna Uwie)

Baca Juga:
https://www.alunauwie.com/2025/08/review-film-kingdom-2019.html
https://www.alunauwie.com/2025/08/review-film-kingdom-2-far-and-away-2022.html
https://www.alunauwie.com/2025/08/review-film-kingdom-3-flame-of-destiny.html
https://www.alunauwie.com/2025/08/review-film-kingdom-4-return-of-great.html


Posting Komentar

0 Komentar