Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh
dengan peta hidup yang sudah digambar orang lain. Sekolah yang baik, pekerjaan
yang layak dibanggakan, menikah di usia yang dianggap wajar, lalu memiliki
anak. Semua itu dikemas dalam satu kata besar: sukses. Masalahnya, peta itu
sering kali tidak pernah benar - benar bertanya apakah kita ingin berjalan di
sana.
Film I Am What I Am (2022) berbicara
tentang tekanan ini dengan cara yang sederhana namun menusuk. Ia tidak
berteriak tentang pemberontakan, tetapi menunjukkan bagaimana ekspektasi sosial
bisa menjadi beban yang pelan-pelan mengikis kebahagiaan. Tokoh-tokohnya hidup
di tengah tuntutan untuk “menjadi seseorang” sesuai standar yang telah
ditentukan, seolah nilai hidup hanya sah jika diakui oleh masyarakat.
Padahal hidup tidak pernah memiliki
standar tunggal, bukan variable tetap yang harus serta merta diterima. Tidak
ada garis akhir yang disepakati bersama. Definisi kebahagiaan yang sering kita
sebut pun hanyalah hasil kesepakatan sosial—bukan kebenaran mutlak yang juga
masih diperdebatkan. Masalah muncul ketika standar itu diperlakukan seperti
hukum alam, dan siapa pun yang menyimpang dianggap gagal, malas, atau tidak
tahu diri.
Di titik inilah I Am What I Am
terasa jujur. Film ini mengingatkan bahwa tidak sepantasnya kita memaksakan
ekspektasi pada hidup yang bukan kita sebagai tokoh utamanya. Hidup orang lain
mungkin tampak berhasil di mata sosial, tetapi itu tidak otomatis berarti hidup
tersebut layak ditiru. Setiap orang berjalan dengan ritme, luka, dan
keinginannya sendiri yang disembunyikan dengan rapi tanpa diketahui. Memaksa
semua orang menuju definisi sukses yang sama hanya akan melahirkan kelelahan
kolektif dan ilusi yang membebani.
Tema ini ternyata juga bergema dalam
Dead Talents Society. Di dunia hantu yang seharusnya bebas dari urusan duniawi,
para arwah justru kembali terjebak dalam sistem penilaian. Mereka harus
memiliki “talenta”, harus populer, harus relevan—atau mereka akan menghilang.
Bahkan setelah mati, eksistensi masih diukur oleh standar yang ditentukan pihak
lain.
Kedua film ini, meski berbeda genre
dan nada, berbicara tentang hal yang sama: hidup sebagai arena kompetisi yang
tidak pernah kita setujui aturannya. Baik di dunia manusia maupun dunia hantu,
nilai diri ditentukan dari luar. Bertahan di masyarakat seperti pertarungan
hidup dan mati, bahkan bagi yang mati. Dan di sanalah tragedi kecil itu
terjadi—saat seseorang lupa bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan, karena
terlalu sibuk memenuhi ekspektasi hingga kehilangan jati diri.
Mungkin kebebasan sejati bukan
tentang menolak semua tuntutan, tetapi tentang menyadari bahwa hidup ini bukan
panggung untuk memenuhi skenario orang lain. Kita berhak berhenti, berbelok,
atau berjalan pelan tanpa harus merasa bersalah. Karena hidup ini kita yang
harus menjalani, orang lain hanya pemerhati yang berpikir layak untuk
berkomentar. Karena pada akhirnya, tidak ada satu standar kebahagiaan yang
berlaku untuk semua. Dan hidup yang baik bukanlah hidup yang terlihat berhasil,
melainkan hidup yang terasa jujur bagi orang yang menjalaninya.
(Aluna Uwie)

1 Komentar
Jadi tergoda buat iutan nonton filmnya deh. Film I am What I am ini bisa ditonton di platform apa nih, Kak?
BalasHapus