Banyak orang menyebut cinta itu
buta. Namun jika benar demikian, mengapa cinta sering kali dimulai dari
penilaian yang begitu sadar? Dari foto profil, kesan pertama, hingga standar
tak tertulis tentang siapa yang layak dicintai. Love Hard (2021) dan How toLose a Guy in 10 Days (2003), meski terpisah hampir dua dekade, bertemu pada
satu titik yang sama: hubungan yang dibangun di atas kebohongan—dan pertanyaan
tentang apakah cinta bisa bertahan di atas fondasi itu.
Dalam Love Hard, kebohongan lahir
dari rasa tidak aman. Seseorang menyamar menjadi versi yang lebih “ideal” demi
dicintai. Tubuh, wajah, dan citra dipoles agar sesuai dengan standar yang
diyakini akan diterima bahkan rela untuk menjadi pribadi yang benar - benar
berbeda. Di sini, cinta tidak dimulai dari pertemuan dua manusia, melainkan
dari pertemuan dua ilusi. Kebohongan bukan sekadar trik, tetapi mekanisme
bertahan hidup dalam dunia kencan yang begitu visual dan selektif.
Sementara itu, How to Lose a Guy in10 Days menampilkan kebohongan dengan wajah yang lebih ringan dan komikal.
Andie dan Ben sama-sama memasuki hubungan dengan niat tersembunyi: satu untuk
membuktikan eksperimen emosional, yang lain demi ambisi karier. Mereka tidak
menjadi diri sendiri, melainkan memainkan peran. Namun di balik humornya, film
ini menyimpan ironi yang sama: cinta tumbuh justru ketika keduanya sedang tidak
jujur.
Dua film ini mengajukan pertanyaan
yang sama dengan cara berbeda: apakah cinta sejati bisa dibangun dari
kebohongan? Atau lebih tepatnya, apakah kebohongan itu sendiri yang membangun
cinta—atau apa yang terjadi setelahnya?
Menariknya, baik dalam Love Hard
maupun How to Lose a Guy in 10 Days, konflik terbesar bukan terletak pada
kebohongan itu sendiri, melainkan saat kebenaran muncul. Saat topeng jatuh,
cinta diuji. Bukan lagi soal seberapa menarik seseorang di permukaan, tetapi
apakah perasaan yang tumbuh mampu bertahan ketika ilusi runtuh. Apakah perasaan
tersebut memang murni muncul karena rasa suka pada pribadi yang asli bukan dari
ilusi yang diciptakan?
Di titik ini, standar memainkan
peran penting. Kita sering mengira cinta hanya akan berhasil jika seseorang
memenuhi kriteria tertentu: tampan, atletis, mapan, atau sesuai dengan bayangan
ideal kita. Standar ini membuat kebohongan terasa masuk akal. Ketika menjadi
diri sendiri dianggap tidak cukup, berpura-pura terasa seperti jalan masuk
menuju cinta.
Namun kedua film ini, dengan caranya
masing-masing, menunjukkan bahwa cinta tidak benar-benar hidup di dalam
kebohongan. Ia baru menemukan pijakan ketika kepura-puraan berhenti. Ketika
seseorang memilih untuk tetap tinggal, bukan karena versi ideal yang dipertontonkan,
tetapi karena manusia nyata di baliknya.
Mungkin cinta bukan tentang tidak
pernah berbohong. Mungkin ia tentang keberanian untuk berhenti berbohong.
Tentang menerima bahwa hubungan tidak dibangun dari kesempurnaan, melainkan
dari kejujuran yang datang terlambat, canggung, dan berisiko. Dan dari sana,
cinta belajar menjadi sesuatu yang lebih manusiawi—tidak sempurna, tapi nyata.

0 Komentar