Saat Kehilangan Datang, Manusia Mencari Kedekatan: Refleksi Duka dalam Norwegian Wood, Zinnia Flower, dan Wenny Has Wings

 

Kehilangan tidak pernah datang sendiri. Ia selalu membawa ruang kosong bersamanya—ruang yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang tanpa undangan. Manusia tidak benar-benar bisa membuat ruang itu sembuh; sering kali yang dilakukan hanyalah berusaha mengisinya, meski hanya sesaat.

Hal inilah yang kerap kita temukan dalam berbagai cerita tentang kehilangan. Tokoh-tokohnya membutuhkan waktu untuk belajar merelakan. Mereka mencari kedekatan, bukan karena sudah siap melanjutkan hidup, tetapi karena belum sanggup menerima kesendirian.

Dalam Norwegian Wood, kedekatan digambarkan melalui keintiman fisik. Tokohnya seolah mencari cinta baru, padahal yang dicari hanyalah kehangatan sementara—cara tercepat untuk memberi sinyal bahwa dirinya masih hidup, masih mampu merasakan sesuatu. Sentuhan menjadi simbol pengganti kata-kata yang tak sanggup menjelaskan duka.

Berbeda dengan itu, Zinnia Flower  memperlihatkan pelarian yang jauh lebih sunyi. Tradisi dan doa di kuil bukan sekadar ritual agama, melainkan usaha mempertahankan hubungan yang telah terputus. Di dalam doa terselip pesan tentang ketidakmampuan untuk melepaskan, seakan kepergian itu belum sepenuhnya nyata.

Sementara dalam Wenny Has Wings, pelarian hadir dalam bentuk ilusi komunikasi melalui surat. Menulis kepada seseorang yang telah tiada menjadi cara menjaga dialog tetap hidup. Tidak ada harapan akan balasan—hanya penolakan terhadap keheningan yang terasa terlalu kejam untuk diterima begitu saja.

Ketiga film tersebut memperlihatkan satu pola yang sama: duka mendorong manusia mencari bentuk kedekatan yang berbeda-beda. Ada yang memilih tubuh, ada yang memilih Tuhan, ada yang memilih kata-kata. Namun tujuannya serupa—menunda perpisahan yang terasa datang terlalu cepat.

Apakah ini sebuah kelemahan? Secara psikologis, otak manusia memang tidak dirancang untuk menerima kehilangan yang tiba-tiba. Kedekatan, dalam bentuk apa pun, berfungsi sebagai penyangga agar mental tidak runtuh sepenuhnya. Jeda dibutuhkan, agar batin memiliki waktu untuk menyesuaikan diri sebelum benar-benar berdiri sendiri.

Menariknya, tidak satu pun dari film tersebut menghakimi bentuk pelarian ini. Jeda diterima dan divalidasi. Tidak ada tokoh yang dipaksa “sembuh” dengan cepat. Sebaliknya, cerita membiarkan mereka berjalan dengan caranya masing-masing—hingga pada satu titik, mereka menyadari bahwa kedekatan yang dicari bukan pengganti, melainkan jembatan.

Akhir cerita pun memiliki kesamaan. Penerimaan tidak datang sebagai pencerahan besar, melainkan hadir pelan, hampir tak terasa. Bukan karena luka menghilang, tetapi karena tokohnya akhirnya mampu berdiri tanpa perlu terus memegang sesuatu.

Mungkin memang seperti itulah cara manusia berdamai dengan kehilangan: bukan dengan melupakannya, melainkan dengan mengizinkan diri sendiri mencari sandaran—selama sandaran itu bukan untuk selamanya, melainkan hanya sampai kita cukup kuat untuk melangkah lagi.

 

(aluna uwie)

 


Posting Komentar

0 Komentar